Dibalik Tangis Umar bin Khattab ketika Melihat Rahib

Dibalik Tangis Umar bin Khattab ketika Melihat Rahib

Dilihat : 122 Views

Kajian Muslimah Masjid Al-Fath Setiap Senin Pagi Sebagian laki-laki menganggap air mata sebagai tanda kelemahan. Namun, mungkin mereka belum mengenal laki-laki yang dikenal karena kekuatan,

Sebagian laki-laki menganggap air mata sebagai tanda kelemahan. Namun, mungkin mereka belum mengenal laki-laki yang dikenal karena kekuatan, ketegasan, dan keberaniannya, yaitu Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah sosok yang dikenal gagah, namun hatinya dipenuhi kelembutan dan ketakwaan.

Dari banyak riwayat yang menceritakan tentang tangisnya, Umar bin Khattab mengajarkan bahwa memiliki hati yang lembut bukanlah tanda kelemahan. Justru kelembutan hati adalah bukti ketajaman iman dan kepedulian terhadap sesama. Salah satu momen yang membuat Umar bin Khattab menitikkan air mata adalah ketika beliau melihat seorang rahib.

Suatu ketika, Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu melewati suatu gereja yang dihuni oleh seorang rahib. Umar pun memanggilnya, “Hai rahib!” Lalu sang rahib muncul. Umar memandangnya, kemudian menangis. Seseorang bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau menangis, wahai Amirul Mukminin? Bukankah dia seorang Nasrani?”

Umar menjawab, “Ya, saya tahu akan hal itu. Akan tetapi, saya merasa kasihan kepadanya ketika aku mengingat firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

‘Bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas.’ (QS. Al-Ghasyiyah: 3-4)

Aku kasihan dengan kedudukan dan kerja kerasnya yang akhirnya hanya menjerumuskannya ke dalam neraka.”

Kisah ini bukan hanya menggambarkan sikap Umar bin Khattab terhadap non-Muslim, tetapi juga menunjukkan betapa besar kecintaan beliau terhadap Al-Qur’an. Beliau memandang segala sesuatu dengan cahaya wahyu, hingga setiap yang dilihatnya mengingatkannya kepada ayat-ayat Allah. Kecintaan ini melahirkan tatapan penuh kasih sayang, bukan penghakiman.

Berapa banyak di antara kita yang dengan mudah mencap seseorang sebagai ahli neraka, bahkan kepada sesama Muslim? Padahal, Umar bin Khattab justru merasa iba dan berharap keselamatan bagi seorang rahib yang beribadah dengan penuh pengorbanan, namun tidak berada di jalan yang benar.

Kisah ini memberikan pelajaran berharga bagi kita untuk lebih mendalam mentadabburi Al-Qur’an dan mengamalkan ajarannya dengan sikap yang lembut serta penuh kasih sayang. Semoga kita dapat meneladani kelembutan dan kebijaksanaan Umar bin Khattab dalam memandang kehidupan dan sesama manusia.

Selanjutnya, penting untuk mentadabburi ayat di atas lebih jauh. Kisah ini disampaikan oleh Ustadzah Fika ketika membuka kajian muslimah bertema Amalan Penggugur Pahala dan Penghapus Dosa (24/12)