Keutamaan Abdullah bin ‘Amr dalam Berpuasa & Membaca Al-Qur’an

Keutamaan Abdullah bin ‘Amr dalam Berpuasa & Membaca Al-Qur’an

Dilihat : 100 Views

Sahabat Nabi yang mulia, Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, dikenal dengan semangatnya yang luar biasa dalam beribadah. Ia memiliki tekad kuat untuk mendekatkan

_Selengkapnya Keutamaan Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash dalam Berpuasa dan Membaca Al-Qur’an

Sahabat Nabi yang mulia, Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, dikenal dengan semangatnya yang luar biasa dalam beribadah. Ia memiliki tekad kuat untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui puasa dan membaca Al-Qur’an. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat kepadanya agar menyeimbangkan ibadah dengan kekuatan fisiknya. Kisah ini memberikan pelajaran berharga bagi kita dalam beribadah dengan penuh hikmah.

Puasa Dawud: Puasa Sunnah yang Paling Utama

Dalam sebuah hadis, Abdullah bin ‘Amr menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

صُم من الشَّهر ثلاثةَ أيام

“Puasalah tiga hari dalam sebulan!”

Namun, Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku sungguh mampu melakukan puasa lebih banyak dari itu, wahai Nabi.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberikan arahan lebih lanjut:

صُم يومًا وأفطِر يومًا؛ فذلك صيام داودَ، وهو أفضل الصيام

“Puasalah sehari, berbukalah sehari! Itu adalah puasa Dawud. Dan itu adalah puasa yang paling utama.”

Meskipun Abdullah bin ‘Amr merasa mampu melakukan lebih dari itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan:

لا أفضلَ من ذلك

“Tidak ada puasa (sunnah) yang lebih utama dari itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa puasa Dawud adalah puasa sunnah yang paling dicintai Allah. Jika seseorang ingin berpuasa sunnah secara rutin, maka metode puasa Dawud adalah yang paling utama dan tidak perlu melebihi ketentuan ini karena lebih dari itu tidak lebih utama. (Fathul Bari, 4: 220-221)

Nasihat Rasulullah tentang Membaca Al-Qur’an

Selain semangatnya dalam berpuasa, Abdullah bin ‘Amr juga memiliki kebiasaan membaca Al-Qur’an dengan intensitas tinggi. Ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai seberapa sering ia boleh mengkhatamkan Al-Qur’an. Rasulullah memberikan jawaban yang bertahap:

يَا رَسُولَ اللَّهِ فِى كَمْ أَقْرَأُ الْقُرْآنَ قَالَ « فِى شَهْرٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ وَتَنَاقَصَهُ حَتَّى قَالَ « اقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ ». قَالَ إِنِّى أَقْوَى مِنْ ذَلِكَ. قَالَ « لاَ يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَهُ فِى أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ »

“Wahai Rasulullah, dalam berapa hari aku boleh mengkhatamkan Al-Qur’an?” Rasulullah menjawab, “Dalam satu bulan.” Abdullah berkata, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Lalu, Rasulullah mengurangi waktunya hingga menyebut, “Khatamkanlah dalam waktu seminggu.” Namun, Abdullah kembali berkata, “Aku masih lebih kuat dari itu.” Rasulullah pun bersabda, “Tidaklah bisa memahami jika ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari.” (HR. Abu Daud no. 1390 dan Ahmad 2:195, dinilai shahih oleh Al-Hafizh Abu Thahir)

Hadis ini menunjukkan bahwa membaca Al-Qur’an dengan kecepatan yang terlalu tinggi dapat mengurangi pemahaman terhadap isi dan maknanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin mengajarkan keseimbangan antara kuantitas dan kualitas dalam ibadah.

Hikmah dari Nasihat Rasulullah

Kisah Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash memberikan beberapa pelajaran penting bagi kita:

  1. Menjaga keseimbangan dalam ibadah – Semangat dalam beribadah harus tetap sejalan dengan kemampuan fisik dan mental agar tetap istiqamah.
  2. Mengutamakan kualitas daripada kuantitas – Dalam membaca Al-Qur’an, memahami dan menghayati makna ayat lebih diutamakan dibanding hanya sekadar memperbanyak bacaan.
  3. Mengikuti sunnah Rasulullah – Puasa Dawud adalah puasa sunnah terbaik, dan membaca Al-Qur’an dengan tempo yang sesuai akan lebih bermanfaat.

Semoga kita bisa meneladani semangat ibadah Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu dengan tetap memperhatikan keseimbangan seperti yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

**Referensi:** Muslim.or.id - *Mengisi Hari Libur Puasa Dawud dengan Puasa Senin Kamis* (<https://muslim.or.id/68299-mengisi-hari-libur-puasa-dawud-dengan-puasa-senin-kamis.html>)